admin/ Maret 8, 2019/ Artikel, Uncategorized/ 0 comments

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar, 54:17)

Tidak ada satu kitab suci pun, atau satu bahan bacaan pun, yang paling banyak dikoleksi, dibaca dan dihapal selain kitab suci Al-Quran. Sangat sulit untuk mengetahui jumlah orang yang hapal Al-Quran dalam satu generasi. Tidak hanya di kalangan bangsa Arab yang telah menjadikan bahasa Arab, yang juga bahasa Al-Quran, sebagai bahasa sehari-hari, bangsa-bangsa non Arab pun banyak yang hapal Al-Quran dengan kualitas hapalan yang sangat baik.

Tidak hanya yang mengerti kandungannya saja yang hapal, yang tidak mengerti kandungan Al-Quran pun banyak yang fasih membaca Al-Quran tanpa melihat mushaf. Buktinya, ada banyak anak kecil yang telah menjadi seorang hafizh. Hal ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala telah memberi kemudahan kepada siapapun untuk menghapal dan mempelajari Al-Quran. (QS Al-Qamar, 54:17)

Itulah sebabnya, sampai detik ini, keaslian Al-Quran senantiasa terjaga. Tidak ada satu huruf, atau bahkan satu titik pun yang hilang, kecuali dia akan segera ditemukan. Sebab ada banyak orang yang telah mengisi memorinya dengan hapalan Al-Quran sehingga kesalahan sedikit saja sudah bisa terdeteksi dan bisa segera dikoreksi. Ketika terjadi ”korupsi” ayat atau huruf dalam Al-Quran, makna yang dikandungnya otomatis akan berubah, bahkan ketika dibaca, bunyi bacaannya pun menjadi sumbang.

Maka, entah berapa banyak upaya yang dilakukan kaum kafir untuk memalsukan ayat-ayat Al-Quran, akan tetapi sebanyak itu pula mereka mengalami kegagalan. Ini semua adalah perwujudan dari janji Allah Ta’ala,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya, Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS Al-Hijr, 15:9)

***

Banyaknya penghapal Al-Quran menjadi sarana yang Allah Ta’ala tetapkan untuk menjaga otentisitas dan kemurnian firman-Nya. Pertanyaannya, apakah kita mau menjadi ”tentara-tentara Allah” yang akan menjaga kemuliaan dan kemurnian kitab suci dari-Nya? Tentu saja, tidak setiap orang mampu menjadi hafizh atau mampu menghapal keseluruhan Al-Quran. Akan tetapi, keinginan dan kesungguhan untuk menghapal Al-Quran sesuai kemampuan telah menjadi nilai plus.

Itulah sebabnya, selain membiasakan membacanya, Rasulullah saw. menganjurkan umatnya untuk menghapal Al-Quran; mengisi memori dalam otaknya dengan kalam-kalam Ilahi, walaupun dia tidak mengerti artinya. Allah dan rasul-Nya menjanjikan aneka keutamaan bagi para penghapal Al-Quran.

Rasulullah saw. pernah mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa orang. Kemudian beliau mengecek kemampuan membaca dan hapalan Al-Quran mereka. Setiap laki-laki dari mereka ditanyakan sejauh mana hapalan Al-Qurannya. Kemudian, orang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah, “Berapa banyak Al-Quran yang telah engkau hapal, hai Fulan?”

Dia menjawab, “Aku telah hapal surah ini dan surah ini, serta surah Al-Baqarah.

Beliau kembali bertanya, “Apakah engkau hapal surah Al-Baqarah?”

Dia menjawab, ”Betul.”

Rasulullah saw. bersabda, “Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!”

Salah seorang dari kalangan mereka yang terhormat berkata, “Demi Allah, aku tidak memelajari dan menghapal surah Al-Baqarah semata karena aku takut tidak dapat menjalankan isinya.”

Mendengar komentar itu, Rasulullah saw. bersabda, “Pelajarilah Al-Quran dan bacalah, karena perumpamaan orang yang mempelajari Al-Quran dan membacanya, adalah seperti tempat bekal perjalanan yang diisi dengan minyak misik, wanginya menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang mempelajarinya kemudian dia tidur, dan dalam dirinya terdapat hapalan Al-Quran, adalah seperti tempat bekal perjalanan yang disambungkan dengan minyak misik.” (HR At-Tirmidzi)

Kemuliaan yang Dijanjikan

Secara umum, ada dua kemuliaan yang Allah janjikan bagi para penghapal Al-Quran, yaitu:

Pertama, mendapatkan kedudukan mulia di dunia, di antara dalilnya:

  • Menjadi keluarga Allah di muka bumi. Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Para ahli Al-Quran, merekalah para keluarga Allah dan hamba-hamba pilihan-Nya.” (HR Ahmad)
  • Menghormati hafizh Al-Quran sama artinya dengan mengagungkan Allah Ta’ala. “Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah dengan menghormati orangtua yang Muslim, penghapal Al-Quran yang tidak melampaui batas (dalam memahami dan mengamalkannya) dan tidak menjauhinya (tidak mau membaca dan mengamalkannya) dan penguasa yang adil.” (HR Abu Daud)
  • Mereka paling berhak menjadi imam, bukan saja dalam shalat tetapi juga dalam memimpin sebuah delegasi. Rasulullah saw. bersabda, “Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hapalannya.” (HR Muslim)

Kedua, mendapatkan kedudukan yang mulia di akhirat, di antara dalilnya:

  • Al-Quran akan memberikan syafaat di akhirat. Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah Al-Quran, sesungguhnya dia akan memberikan syafaat pada hari Kiamat bagi para pembacanya.” (HR Muslim)
  • Derajat yang tinggi di surga. Rasulullah saw. bersabda, “Akan dikatakan kepada shahib Al-Quran, ‘Baca dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu menartilkannya di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang engkau baca’.” (HR At-Tirmidzi, Abu Daud, dan An-Nasa’i)

Bersama para malaikat pencatat yang mulia. Beliau pun mengungkapkan, “Dan perumpamaan orang yang membaca Al-Quran sedangkan dia hapal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (HR Al-Bukhari)

sumber : www.tasdiqulquran.or.id

www.ponpesutrujah.id
Share

Leave a Comment